Minggu, 25 November 2012

Barang menyusut...?

Bismillah...

nge-post lagi nih gan. ngomong2 masalah kuliah, pasti teman2 udah pasti tau barang wajib para mahasiswa kan. yuppss, salah satunya adalah printer. printer tuh ibarat nyawa nomer dua bagi mahasiswa. bayangin aja, kalau lagi ada tugas besar, lalu sang "printer" gak ada, jalan keluarnya nge-print diwarnet (bagi yang punya duit) atau nebeng printer sama teman tanpa rasa malu (saya banget), pasti repot kan. mending deh kalau tuh tugas langsung diterima dosen, kalau ditolak...? #nyesek

nah, karena printer sangat penting bagi mahasiswa, berniat lah saya mencari printer kw 1. sebelum membeli, saya searching dulu referensi printer yang cocok dengan kebutuhan dan kantong, dan akhirnya, ketemu juga printer epson L100. TAPI, setelah liat harganya, muke gile, mahal bangett boss. cuma buat ngeprint doang (gak ada scaner-nya), harganya Rp. 1.419.000 (harga resmi dari epson, lihat gambar for bukti)

for bukti harga resmi epson L100 (ini linknya http://bit.ly/dvVkq6)

bagi saya, harga printer ini masih kemahalan, tapi sebenarnya untuk biaya print-nya murah, katanya cuma Rp. 35 per lembar sih. untuk mengakali harga segitu mahal (bagi saya yah), maka saya nyari yang second aja lah. nah, langsung aja saya search tuh printer second diforum jual beli-nya KASKUS. setelah pencarian, akhirnya nemu juga agan yang lagi jual printer L100. si agannya jual 900 ribu. lumayan lah, bisa hemat 500 ribu lebihkan. si agan "adjlevaanburen" yang jual printernya (ini linknya http://bit.ly/UmAvqp), katanya sih jarang dipakai dan masih bisa nego lagi harganya (mahasiswa banget kan).
tanpa pikir panjang, langsung deh saya PM tuh agan, moga2 aja dapat harga mulus 500ribu, hehehehe. nah, bagi yang peka dengan kejadian saya diatas, pasti ada yang bertanya, 
KOK HARGANYA BISA JATUH AMPE 500 RIBU YAHH...? GAK MAU UNTUNG YAH TUH PENJUAL....?

nah, disini AKUNTANSI bermain. dalam ilmu akuntansi, kita kenal sebagai "PENYUSUTAN"

Apa sih penyusutan itu....? apakah seperti bola sepak yang dikempiskan hingga menyusut kecil...?
ilustrasi diatas ada benernya juga, tapi secara konsep, penyusutan dalam teori akuntansi adalah penurunan nilai ekonomis suatu harta (aset) akibat pemakaian masa manfaat harta (aset) tersebut. contohnya, harga printer (seperti ilustrasi diatas) baru tadi dengan bekas bisa beda karena perbedaan umur pemakaian.

Kalau tentukan harga bekasnya, apakah ada caranya atau asal tentuin aja...?
penentuan harga bekas suatu harta yang ingin kita jual ada caranya, gak asal main tentuin aja. ada berbagai macam cara penentuan harga bekas dalam metode penyusutan. namun disini saya hanya menjelaskan 2 metode saja (karena tangan saya bisa keriting kalau mau jelasin semuanya, jadi mengertilah). so, disimak baik2 yah, soalnya saya pakai bahasa tingkat tinggi lho.

1. Metode Garis Lurus
rumus metode garis urus = (harga perolehan - nilai sisa)/umur ekonomis harta
contoh, saya habis beli laptop dengan harga Rp. 5.000.000. diperkirakan, laptop ini akan berfungsi normal selama 5 tahun. saya punya rencana harga laptop saya bisa terjual nanti bila sudah pemakaian 5 tahun menjadi Rp. 1.000.000. tapi tiba-tiba, ditahun ke-2, sy kepengen beli laptop baru, dengan terpaksa, saya harus jual laptop lama saya yang telah saya gunakan selama 2 tahun. pertanyaannya, dengan harga berapa saya harus jual...?
jawaban
dengan rumus diatas, kita dapat simpulkan
harga perolehan laptop = Rp. 5.000.000
nilai sisa laptop = Rp. 1.000.000
umur ekonomis laptop = 5 tahun
jadi, metode garis lurus = (5.000.000-1.000.000)/5 tahun = Rp.800.000
jika saya jual laptop saya tahun pertama maka harganya (Rp. 5.000.000 - (Rp. 800.000 x 1 tahun pemakaian)) sebesar Rp. 4.200.000
jika saya jual laptop saya tahun kedua maka harganya (Rp. 5.000.000 - (Rp. 800.000 x 2 tahun pemakaian)) sebesar Rp. 3.400.000
dan seterusnya.....
jadi, harga laptop (dalam akuntansi disebut nilai wajar) yang harus saya jual ketika tahun kedua adalah Rp. 3.400.000

2. Metode Saldo Menurun
rumus metode saldo menurun = (100%/umur ekonomis) x 2 = tarif %
contoh, sama dengan kasus di metode garis lurus, cuma cara kerjanya aja agak beda. disimak (lagi) yah
jawaban
tarif = (100%/5 tahun) x 2 = 40%

Jika saya jual laptop saya tahun pertama maka harganya
Tahap Pertama, Mengalikan Harga Perolehan dengan Tarif (Rp. 5.000.000 x 40% = Rp. 2.000.000)
Tahap Kedua, mengurangi harga perolehan dengan hasil dari tahap pertama (Rp. 5.000.000 - Rp. 2.000.000 = "Rp. 3.000.000"

jika saya jual laptop saya tahun kedua maka harganya

Tahap Pertama, Mengalikan Harga Laptop tahun pertama dengan Tarif (Rp. 3.000.000 x 40% = Rp. 1.200.000)
Tahap Keduamengurangi harga Laptop tahun pertama dengan hasil dari tahap pertama (Rp. 3.000.000 - Rp. 1.200.000 = "Rp. 1.800.000"
dan setersusnya...
jadi, harga laptop (dalam akuntansi disebut nilai wajar) yang harus saya jual ketika tahun kedua adalah Rp. 1.800.000
nb : nilai sisa tidak diperhitungkan dalam metode saldo menurun, beda halnya dengan metode garis lurus. 

Gimana cara tentuin untungnya kalau udah tau nilai wajarnya...?
gampang aja, misalnya kalian pilih metode garis lurus, jadi udah tau kan, nilai wajarnya tuh laptop ketika udah dua tahun dipakai jadi Rp. 3.400.000, maka kalian tinggal jual aja diatas nilai wajar (seperti Rp. 3.450.000). intinya, jual diatas nilai wajar kalian udah dianggap untung lho :)

Dari 2 metode yang mas katakan, bagusan yang mana yah dipakai...?
kalau mau dibilang mana yang bagus, itu terserah teman-teman sekalian mau pilih yang mana. nggak ada bagus dan jelek dari kedua metode ini. jadi dikembalikan ke masing - masing aja, mana yang lebih srek dihati. okeee

Jadi udah tau kan, kenapa orang kalau jual barang second/bekas/lama tuh pasti beda harga dengan harga aslinya. kesimpulannya, karena mereka semua "MENYUSUT". sampai ketemu di post berikutnya yahh. syukran :) :) :)

nb : cuma satu didunia ini yang tidak bisa susut dan harganya gak bakal turun, yaitu "TANAH". karna tanah tidak bakal menyusut 
Read more: http://pelajaran-blog.blogspot.com/2011/04/membuat-read-more-otomatis-auto.html#ixzz1zS3JSlz6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar